Aku Bilang Padanya : Ada Tanah Seluas 220 meter murah sekali, lokasi lamsidaya, Aceh Besar. Harga murah, Cukup 155jt saja. Sudah kutanggung Sampai Biaya suratlah.
Ia mungkin mendengar yang kukatakan, mungkin pula ia tak mendengar yang aku katakan. Moogee cuma diam mematung. Duduk termenung ditepi pantai menyaksikan pesona bola matahari tenggelam dimana sekejap lagi waktu berubah menjadi malam yang mengesankan. Jauh disana burung burung hitam membayangi angkasa mengitari cakrawala, beberapa perahu nelayan pemancing suguhkan pemandangan di tengah lautan menjadikan semua itu bak lukisan dinding raksasa.
Betapa fana dunia kita, Moogee membatin.
Sebagai teman, aku tidak ingat kapan terakhir kali moogee tersenyum? Wajah yang selalu murung bertahun manyun. Kuping yang terbiasa mendengar sumpah serapah, seratus persen cacian, nol persen pujian adalah makanan sehari - hari. Pernah sekali waktu aku melihat Moogee tersenyum, Itupun ketika usaha dirinya mencemari udara ber - virus melalui anus dengan aroma busuk menusuk hidung. Naudzubillah...
Sambil cengengesan ia melenggang santai dibalut wajah seolah tiada salah.
Moogee penyedia jasa memang pernah tertawan perasaan oleh seorang perempuan pekerja malam merupakan penyedia nafsu birahi banyak pria hidung belang. Cinta itu abstrak menurutnya, tidak bisa ditebak. Tergantung dikau merasa nyaman atau tidak, Tegasnya! cinta ku mungkin penuh noda, memang penuh dosa tapi kami tak tega untuk saling melukai dengan menggores luka dihati sebab kami sama sama berada dalam lingkaran kesusahan duniawi.
Itulah kemudian mendorongnya terlanjur mencintai setengah mati meskipun kekasihnya berkata Ia harus Pergi sebentar lalu pulang lagi. Seterusnya membina rumah tangga, beranak pianak, hidup rukun dan semoga bahagia. Moogee mengurainya. Namun, Aku tau dari gerakan kaki bahwa kekasihnya pergi tak sudi untuk kembali.
Moogee yang malang, betapa malang dan sungguh malang...
Dirimu telah dibutakan oleh cinta pada pandangan pertama. Menurut ku sebagai teman, justru melemparmu pada khayalan semu. Percayalah padaku, bahwa mimpi mu hanya akan bertahan sebagai mimpi yang tidak akan pernah terwujud kenyataan. Senyum menjadi mahal untuk manusia purba seperti moogee ini. Sebagai teman, Jujur Aku merasa iba. Tak dapat lagi kubedakan moogee senyum atau tidak senyum. Raut wajah moogee penuh kekecewaan. Lama lama aku perhatikan malah sudah kayak aspal berlobang. Hitam, Jelek, Bernafas.
Terkadang, Aku merasa heran. kebudayaan macam manakah sebetulnya menghasilkan manusia seperti moogee ini?
Sejak kepergian kekasihnya Moogee menjadi pribadi yang terasing juga kesepian. Telah menjadi perilakunya untuk demikian. Ia lebih senang ketenangan, menyendiri jauhi keramaian, dunia semakin ramai disesaki berbagai macam persoalan. Sepanjang hari moogee kerap bergumul dengan asap knalpot kendaraan, bersekutu bersama debu jalanan, berteriak seperti cacing kepanasan. Akhirnya Moogee memilih berdamai dengan keadaan. Mengikuti jalan hidup yang sudah digariskan, Menerima kenyataan sebagai ujian hidup yang mesti dilalui dengan ketabahan.
Kapankah kekasihmu akan kembali? Tanyaku Ringan.
Dirinya belum tiba disini memang suatu kesedihan bagiku. Rasanya, aku masih mau menunggu kalau perlu untuk seribu tahun lamanya. Namun, Dikau pun tahu, waktu itu bukanlah untuk Moogee mu lagi...
Komentar
Posting Komentar